Ada pihak yang tidak begitu peduli tentang makna sebuah nama. Apalah makna dari sebuah nama, begitulah kira-kira pandangannya yang menggambarkan bahwa nama tidaklah begitu penting. Padahal peresmian pemberian nama biasanya dilakukan pada saat upacara aqiqah (gunting rambut) sekaligus potong kambing dua ekor bagi anak laki-laki dan seekor kambing bagi anak perempuan. Oleh sebab itu, kalau seseorang dipanggil tidak sesuai dengan nama yang sebenarnya, maka orang tersebut secara berolok-olok mengancam mendenda orang yang memanggil salah tersebut dengan dua atau seekor kambing.
Penulis pikir, nama, gelar atau apapun juga namanya itu adalah hal penting terutama bagi suku Makassar yang bertempat tinggal di Galesong. Begitu pentingnya nama itu sehingga diupacarakan tersendiri. dan orang tua mencari nama terbaik buat anaknya. Ada orang tua yang bahkan sengaja ke toko buku untuk mencari rujukan pada buku yang mengulas tentang nama-nama teladan. Ada juga orang tua yang sengaja berkonsultasi dengan orang-orang pintar, dan sebagainya
Pada kesempatan ini yang ingin penulis kemukakan adalah nama (tambahan) yang sering diberikan kepada orang-orang kalangan bangsawan Makassar yang sebenarnya suatu bentuk penghargaan. Seseorang yang sudah meningkat dewasa, atau setidak-tidaknya mendapat adik maka ia diberi nama tambahan atau “pakdaengang” sehingga adiknya itu tidak lagi menyebut nama asli kakanya, melainkan memanggil “pakdaengang” atau gelarnya. Nama asli hanya dipakai di sekolah, di kantor dan di tempat-tempat formal lainnya. Bagi mereka yang sudah diberikan gelar maka nama aslinya sudah jarang disebut lagi terutama oleh komunitas yang memberi gelar itu.
Gelar atau “pakdaengang” pada hakikatnya tidak didapatkan begitu saja melainkan mengandung makna yang beragam. Menurut penulis, “pakdaengang “ ini maknanya antara lain:
1. penghambaan dari nama Allah, kurang lebih sama dengan nama Islam yang ditambahi dengan Abdul. Misalnya Daeng Patoto. Patoto dalam lontara artinya pencipta, sehingga Daeng Patoto adalah hamba dari yang maha pencipta. Daeng Tanicalla, artinya tak tercela. Yang tak tercela hanyalah Allah SWT. Daeng Manaba, yang artinya penyayang, hamba dari yang maha penyayang;
2. berasal dari kata benda Makassar “pakdoangang” dari akar kata “doa” dan harapan. Ada beberapa “pakadengang” yang dapat masuk dalam kategori ini, misalnya:, Daeng Bau, agar yang bersangkutan memberikan nama harum bagi keluarga dan masyarakatnya. Daeng Nisokna, yang diimpikan, yang dicita-citakan. Daeng Gemilang, agar tampil lebih gemilang. Daeng Nikeknang, agar selalu dikenang. Daeng Kanang agar ia cantik, Daeng Baji agar dia baik hati, Daeng Puji agar dia menyenangkan;
3. Penegasan bahwa dia juga adalah golongan bangsawan: Daeng Memang, artinya dia memang “daeng”, Daeng Tonji, yang artinya, diapun “daeng”. Daeng Tommi,yang artinya sebelumnya dia bukan daeng tetapi sekarang diapun sudah “daeng”. Daeng Tadaeng artinya, “daeng” atau bukan, baginya sama saja;
4. Panutan (“picuru”), yang diambil dari nama tokoh yang sukses karena kejujurannya, keberaniannya, kepintarannya , dan kekayaannya, tanpa terlalu memperhatikan makna dari “pakdaengang” itu. Daeng Salle, sampai sekarang penulis belum ketahui asal muasal kata itu, tetapi sebagian besar keluarga penulis menggunakan gelar itu karena nama Bapak penulis adalah Daeng Salle, yang kemudian disebut Karaeng Salle, adalah idola kami. Almarhum sukses membina anak-anak dan cucu, jujur, pintar, berani dan kaya dalam arti yang luas. Daeng Tamae, nama dari nenek isteri penulis yang diidolakan karena memiliki anak-cucu banyak dan mengalami kehidupan yang baik.Daeng Manaba, nama bangsawan Galesong yang dengan gagah berani membantu Trunojoyo memerangi Balanda di Pulau Jawa. Penulis, sewaktu kecil amat mengagumi seorang tokoh ambtenaar yang bernama Karaeng Toto, yang dengan speda Releigh, bercelana jongkor , berspatu dengan kaos kaki putih di bawah lutut. Sejak saat itu sampai sekarang “pakdaengang” itu melekat pada penulis. Jadi “pakdaengang identik dengan tokoh idola;
5. "pakdaengang”, juga bisanya diberikan kepada seseorang yang berjasa, dan gelar itu disesuaikan dengan keadaan orang itu. Seorang teman berkebangsaan Amerika, oleh orang tua penulis diberi “pakdaengang” Daeng Rate, karena kebetulan orangnya tinggi. Penulis juga memberikan “pakdaengang” kepada Bapak PL Coutrier dengan: Daeng Labbang, karena beliau sudah berkeliling bertugas keberbagai Negara.
Mungkin masih ada makna lain dari ‘pakdaengang” tersebut, penulis sangat mengharapkan sumbang idea dari teman-teman untuk memperkay ulasan ini.
lebih lengkap, baca dalam http://pena.aminddinsalle.com
kirim ke teman | versi cetak